Kalo kemaren gue udah cerita tentang perjalanan dan kisah drama gue menuju gedung MPR, kali ini gue pengen cerita, apa sih yang gue lakukan kok tiba-tiba gue nyasar ke sana?

Jadi gini. Seperti yang gue bilang di post gue sebelumnya, gue diajak oleh founder KEB yang super kece kakak Mira Sahid untuk menhadiri event kedua dari Blogger ngobrol bareng MPR ini. Jadilah gue tanggal 26 Agustus kemaren dengan senang hati menghadiri acara tersebut. Man, kapan lagi gue bisa masuk gedung MPR?

Meskipun berbagai drama dan rintangan gue alami dalam proses menuju gedung Nusantara V, saat sampai di TKP gue excited banget. Gimana enggak, gue ketemu sama orang-orang kece yang notabene adalah blogger-blogger kece dan terkenal.

Saat pertama kali acara dibuka dengan model seperti presentasi gitu, jujur gue bingung. I mean, orang kaya gue yang slenge’an, selow, nyantai abis dan seenaknya sendiri dihadapkan dengan pembukaan yang menurut gue serba resmi. Jujur gue sedikit merasa tersanjung dengan hal ini, jadi terima kasih banyak untuk tim MPR yang sudah bersusah payah menyediakan banyak hal demi mengundang kami.

Nah, pembahasan topik diskusi yang kita jalani adalah mengenai pengenalan MPR kepada masyarakat luas. Karena apa? Ternyata banyak yang masih kurang memahami sebenernya fungsi MPR itu apa sih? Jangankan fungsi, kayanya kepanjangannya aja masih banyak yang salah. (Hayoloooh ngakuuu)

Sebenernya apa sih tugas dari MPR ini?

Jadi gini. Tugas utama dari MPR adalah untuk memberi arahan dan komando agar arah dan tujuan negara terus dan tetap terarah dengan jelas. Nah lo. Berat banget kan tugas MPR ini.

Tidak hanya itu, MPR juga memiliki beragam tugas berat lainnya, yang terpampang dalam Visi MPR di bawah ini.

maaf kalo tulisannya ga jelas, soalnya itu presentasi emang agak blur gitu
maaf kalo tulisannya ga jelas, soalnya itu presentasi emang agak blur gitu

Yang pertama, tugas MPR adalah sebagai jembatan atas arus perubahan. Jadi gini, seandainya masyarakat punya ide, aspirasi, ataupun pemikiran maka tuga MPRlah untuk menjembatani aspirasi tersebut, tentu saja dengan mengedepankan etika politik kebangsaan negara kita.

Yang kedua, MPR adalah satu-satunya lembaga resmi pengawal pancasila. Jadi MPR bertugas untuk menjaga agar nilai-nilai pancasila tetap tertanam dan menjadi panduann masyarakat.

Yang ketiga, MPR adalah pelaksana kedaulatan rakyat yang memiliki kewenangan tertinggi untuk mengubah dan menetapkan undang-undang. Jadi, kalau seandainya ada perubahan di dalam undang-undang, maka satu-satunya lembaga negara yang bisa melakukan itu adalah MPR.

Nah, setelah itu dibukalah sesi tanya jawab dengan berbagai pertanyaan yang muncul. Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat adalah, mengapa MPR kurang populer di kalangan masyarakan jika dibandingkan lembaga negara yang lainnya?

Menjawab pertanyaan ini, bapak Ma’ruf Cahyono berpendapat jika MPR masih kurang maksimal dalam menyebarkan informasi dan komunikasi. Padahal ya, gue taunya MPR itu punya Website resmi. Sayang banget kan kalo websitenya kurang dimaksimalkan. Begitu juga dengan media social MPR yang kurang maksimal dikelolanya. Gue sih berharapnya, MPR akan bisa mengelola sistem penyebaran informasi ini menjadi lebih baik lagi. Karena apa? Ga lucu kan kalo masyarakat Indonesia ga mengenal MPR RI? Padahal MPR itu adalah jembatan utama jika masyarakat menginginkan perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *