Sosok itu berjalan tertatih, dengan tangan kanannya memegang erat lengan kirinya dengan erat, berusaha menahan tetesan darah yang terus menetes berusaha menembus jari-jarinya. Sesekali kepalanya menengok ke belakang, memastikan jika tidak ada siapapun yang mengikuti. Meski kesakitan, lengan kirinya masih menggenggam erat sebuah revolver.

Dia melihatnya, melihat ujung dari lorong yang sejak, entahlah berapa saat yang lalu, menjadi jalan yang harus dia lalui. Dia harus segera mencapai ujung lorong itu.

Sulit untuk tidak merintih kesakitan saat darah tidak berhenti menetes dari lengan kirimu, tapi sosok itu terus menahan rintihannya agar pelariannya kali ini tidak sia-sia.

“Dia pasti masih di sekitar sini! Cepat sisir tunnel ini, jangan sampai kehilangan jejak!”

“Baik, Tuan!”

Sosok itu dapat mendengar teriakan mereka dengan jelas, begitu juga dengan gonggongan anjing dan derap kaki mereka yang cukup berisik.

‘Sial!’

Sosok itu menggeram dalam hati. Dia terus merutuki lengannya yang harus terluka di saat seperti ini. Dia harus berlari. Persetan dengan luka yang mungkin akan terbuka lebih lebar,  toh selagi peluru masih bersarang di lengannya lengannya masih akan terasa sakit.

Dia semakin mempercepat langkahnya, hanya tinggal beberapa langkah lagi hingga dia mencapai ujung dari  tunnel  tersebut.

“Hai, sobat! Aku seperti sudah tidak melihatmu selama belasan tahun.”

***

Meski berat, sosok itu berusaha membuka matanya. Dia menatap sekeliling dengan mata yang sedikit memicing, tentu dengan tangan memegang kepalanya dia yang mungkin terasa sangat berat.

“Hei, hei, jangan langsung bangun. Kau kehilangan cukup banyak darah, tau!” Ada sosok lain yang mendekatinya dan berjalan dengan tergopoh saat tau orang yang seharusnya tertidur kini telah membuka matanya.

“Terima kasih, Bel. Aku berhutang padamu.” Jawabnya meraih sebuah gelas yang dibawa oleh orang yang kini telah duduk di kursi sebelah kasur yang dia tiduri.

“Aku hanya menjemputmu.” Jawabnya sambil mengedikkan bahu dan sedikit mengibaskan rambutnya.

“Tetap saja, terima kasih, Abela. Aku berhutang nyawa padamu.”

“Kalau sampai kau harus gagal lagi dalam misi selanjutnya, aku sendiri yang akan membunuhmu, John Bennedict Schumacher.”

“Aku tidak gagal, aku hanya jatuh dari helikopter, lalu mereka menahanku dan berusaha mengorek segala informasi tentang kita, tapi aku tidak menjawab dan taraa! Aku sudah ada di depanmu sekarang.” Laki-laki itu menjawab dengan nada riang yang dibuat-buat.

“Aku serius, Ben. Jangan kau ulangi lagi.” Perempuan itu menatap Ben dengan serius, matanya berusaha menyelami bola mata Ben yang begitu bening berwarna hijau keabu-abuan. Oh, ingatkan dia untuk tidak jatuh cinta lagi pada pria ini.

“Terima kasih, Abela. Aku tidak mudah menyerah karena aku tau kau akan menyelamatkanku.” Ben menjawabnya dengan tatapan yang sangat lembut dan tangannya yang membelai pipi Abela.

“Alright, lovebird! Stop being so clingy each other! Kita ada misi berikutnya. Dan Ben, aku sarankan kalian berdua segera berpacaran.” Seseorang tiba-tiba masuk dan mengganggu mereka.

“Diamlah, Adrian.”

“Lhoh? Aku hanya tidak mau adikku digantungkan oleh pria buaya mata keranjang sepertimu.”

“Ingatkan aku, kapan aku terakhir berhubungan dengan seseorang? Karena setahuku aku belum pernah berpacaran.”

“Hahahaha. Aku hanya bercanda. Begitu saja sudah marah. Aku tahu kau jomblo selama 27 ta.. Aduh! Jangan memukulku Abela bodoh!”

“Kalian berdua kekanakan sekali. Ngomong-ngomong, dimana misi kita selanjutnya?”

“KPK”

.

.

.

.

To be continued~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *