Kalo gue pikir, manusia itu punya otak yang sistem di dalamnya paling baik diantara mahluk hidup lainnya. Seharusnya, manusia bisa hidup dengan lebih tenang dan bahagia dengan anugerah yang diberikan sama Tuhan ini. Nyatanya?

Gue sendiri gabisa 100% yakin kalo gue sekarang bahagia. Bukan kok, gue bukan ga puas sama apa yang gue raih saat ini. Gue sangat puas, gue bahkan ga pernah menyangka kalau gue bisa mencapai titik ini di usia gue sekarang.  Tapi satu yang bikin gue belakangan kepikiran lagi sama mimpi gue di dunia pendidikan.

Bulan Oktober tahun lalu, gue kaget kalau ternyata gue diterima sebagai salah satu kandidat Mahasiswa di Sebuah Universitas di Belanda. Ga Nyangka? Banget! Seneng? Iya!

Masalahnya, gue sekarang akhirnya memutuskan untuk ga ambil dulu kesempatan gue mengenyam pendidikan lebih lanjut itu karena, sadly, I have no scholarship to bring me there. As simple as that.  And as I have no intention to put all the burden to my parents, makanya gue diem-diem aja. Bahkan sahabat deket gue aja gatau.

Awalnya gue berniat pasrah ‘Yaudah sih sil, mungkin bukan jodohnya’ begitu pikiran gue saat itu. Soalnya perkuliahan dimulai bulan Februari dan gue bahkan belom mulai cari beasiswa. Konyol ya? Tapi saat itu gue mikirnya karena gue harus cari LoA dulu, makanya gue ga fokus cari beasiswa. Tapi ternyata saya salah, sodara-sodara!

Akhirnya, dengan modal nekat gue berjuang kesana kemari buat mengumpulkan persyaratan untuk mengais beasiswa, ya walaupun sampai detik ini akhirnya gue tetep gabisa jalan. Balik lagi, gue salah strategi. Atau mungkin gue terlalu percaya diri sama kemampuan gue.

Sampe detik ini pun gue masih berpikiran ‘seandainya gue punya duit banyak, pasti gue bisa ke sana’. Tapi balik lagi, mungkin Tuhan masih sayang sama gue. Buat Tuhan, gue mungkin belom saatnya untuk kuliah lagi. Mungkin ini masih saatnya gue buat ngabdi dan nyenengin orang tua. Kapan lagi kan gue jadi anak berbakti. Gue kan selama ini banyakan ngerepotinnya daripada nyenenginnya.

Selain itu, I have to found another bitter truth about my private love story. The man that I usually hang out with is actually living with his lover with no string attached, and what makes me more surprised is, he has a son. I felt like I was slapped in the face. How can I not know about it, when he is around for 2 years already. I even hope that we will be growing old together. But No. He doesn’t belong with me.

Belakangan gue ragu apa gue bener-bener bahagia dengan kejadian beruntun yang jujur bikin gue drop ke level hidup gue yang paling bawah. Ya gimana sih, I’ve got the school that I dream of but at the same time I can’t. Or with a man, even if He doesn’t really my boyfriend (I mean, we have a complicated relationship).

Trust me, Even I have the feeling that live is playing me up.

Bohong banget kalo gue bilang gue baik-baik aja. No, I’m not okay. But it doesn’t mean that I will give up on everything. Lagian seperti apa yang gue bilang di awal, gue dianugerahi otak sama Tuhan, udah sepatutnya gue berhenti sedih dan mulai mikir ke depannya gue mau seperti apa. Well, whatever and whichever road I will choose, gue cuma mau fokus dan berusaha melakukan yang terbaik. Gue selalu percaya kalau Tuhan udah nyiapin sesuatu buat gue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *