Mungkin aku tidak akan pernah sadar, betapa aku merindukan hujan.

Ayolah. Bukan rahasia jika aku bukanlah penikmat hujan. Dari suaranya yang dapat menghalau semua gaung, hingga bentuknya yang begitu kabur membuat semua panorama indah nampak berbayang.

Namun siapa sangka, si pembenci hujan ini, merindukannya.

Suatu ketika, aku terpakasa berlari menerobos hujan. Entah siapa yang bodoh di sini, aku mengumpat lantaran rambutku basah kuyup dan ada orang lain yang ternyata melakukan hal yang sama denganku. Mengumpati hujan.

Pandangan mata kami bertemu, membuatku sedikit kikuk dan tersenyum kecil. Ingat, ini hanya sebagai sopan santun karena aku harus berpapasan dengannya.

Tidak lama aku melihat tangannya terulur.

“Andreas.” Katanya dengan senyum yang menawan dihiasi dengan gigi yang rapi dan mata yang tampak berbinar. Entah kemana tatapan kesal dan ekspresi menjengkelkan yang tadi menghiasi wajahnya.

“Aleksa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *