Kata orang, jatuh cinta itu bentuk pelampiasan.

Pelampiasan untuk mencurahkan segenap perhatian, juga pelampiasan untuk meluapkan kebencian. Tapi siapa yang bisa menyangkalnya?

Siapalah aku, yang begitu menghujat atas perasaan suka yang timbul tanpa diduga.

Aku pernah merasakannya. Aku benci saat aku merasa lemah, tidak dapat bergerak, dan dadaku terasa begitu sesak dengan segala tekanan yang mungkin tidak sengaja menghimpitnya.

Hai, kau!

Aku sudah mengatakan aku jatuh cinta kepadamu. Aku juga masih ingat apa jawabanmu saat itu. Tidak ada setitikpun kata yang meluncur dari mulut manismu luput dari otakku. Ingatkan aku, jika saat itu aku benar-benar merasa lumpuh.

“berani sekali orang menjijikkan seperti dirimu jatuh cinta padaku?”

Tuhan.

Mungkin aku lupa bagaimana nikmatnya udara yang mengalir dalam tubuhku saat itu. Aku hancur, dear. Sebagaimana sebatang ranting yang mendadak runtuh karena angin yang begitu kencang. Seperti rumput yang mendadak layu karena terlalu banyak orang yang melaluinya tanpa mengindahkan eksistensinya.

Sekedar mengingatkan, dear. Tidak bisakah kau menjaga mulutmu? Aku yang tidak memiliki hati saja merasa begitu sakit mendengarnya.

Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi tahukah kau, dear? Siapapun aku, orang sepertimu tidak pantas berkata demikian. Siapalah dirimu jika dibandingkan dengan kuasa Tuhan? Kau pun lupa jika sebenarnya kau tidak begitu sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *