Ketika matahari mulai bosan menyinari pagimu, mungkin saat itulah aku akan berhenti dan menyadari berapa besar rasa yang aku berikan kepadamu. Aku mengerti arti perbedaan yang sesungguhnya. Sungguh. Memahami betapa satu individu dapat memberi pengaruh dan pengetahuan yang mendalam tentang satu sama lain, merupakan salah satu keadaan yang harus diterima ketika berusaha memahami orang lain. Betapa segala perbedaan yang teramat mendasar dapat dihapuskan atau seolah ditiadakan atas nama sebuah perasaan. Cinta.

Aku tahu. Awal aku mengenalmu mungkin aku tidak pernah menyadari betapa perasaan yang bermula dari sebuah rasa kagum berubah menjadi sebuah perasaan yang jauh melampaui alam batas kesadaranku.

“Silahkan. Caramel Machiato.”

Ah, rupanya kopi yang aku pesan sudah datang.

“Terima kasih.” Aku tersenyum kepada seorang perempuan cantik berambut panjang yang memberikan kopi pesananku.

Astaga, aku kembali melamun. Aku benci ini, mungkin. Tapi aku juga menikmati saat-saat seperti ini. Duduk sendiri di sebuah kedai kopi yang cukup jauh dari tempat tinggalku. Dekorasinya yang unik dan terkesan vintage membuatku mau bersusah payah hanya untuk duduk sambil menikmati kopi pesananku.

Aku sendiri. Meja di seberangku kosong, tidak menunggu seseorang untuk duduk di atasnya, namun juga tidak sepenuhnya membiarkan dirinya kosong. Saat seperti ini memiliki banyak alibi untuk diam, sembari mencium aroma caramel dari kopi yang aku pesan tadi. Jauh di dalam pikiranku, aku masih melayang, berusaha memahami apa yang telah terjadi belakangan ini di dalam diriku. Benar. Hubunganku dengan kekasihku, Anthony, berakhir. Kali ini benar-benar berakhir.

***

“Apa maksudmu, Renatha?”

“Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Kali ini aku serius. Kita benar-benar tidak boleh kembali bersama.”

“Apa?” Anthony tidak mengerti. Bingung, namun juga tidak mengerti apa yang sebenarnya dialami dirinya. Mungkin otaknya sedang memproses semuanya. Matanya yang berwarna cokelat menyiratkan rasa tidak percaya.

Tanpa perkataan lebih panjang, aku pergi, meninggalkan Anthony masih terpaku. Aku melangkah semakin jauh, dengan langkah semakin cepat. Mencegah Anthony mengejarku, aku berhasil masuk ke sebuah taksi yang akan mengantarkanku pulang. Aku duduk di belakang, sambil memandang ke luar jendela. Malam ini tidak begitu banyak kendaraan yang berlalu-lalang, tidak seperti biasanya.

Aku sangat tenang. Sangat tenang saat mengakhiri hubunganku dengan Anthony. Sangat tenang saat masuk ke dalam taksi. Sangat tenang menghadapi keadaanku yang sekarang. Dan sangat tenang menghadapi kenyataan bahwa aku kelewat tenang menghadapi ini semua. Benarkah aku siap untuk meninggalkan Anthony?

Tidak lama berada di dalam taksi dan memikirkan semua kenangan yang membayang di kepalan, Aku tiba di depan rumah. Rumah yang hampir aku tinggali selama lima tahun seorang diri, hadiah dari orang tuaku. Tiba di depan rumah, Anthony sudah menungguku. Kaget, Aku tidak dapat mengelak dari kedatangan laki-laki itu. Anthony yang semula berdiri bersandar di sebelah kanan mobilnya, kini berjalan menghampiriku, mendekat. Marah, kesal, dan emosi terpampang jelas di wajahnya. Kaget, tentu saja. Tidak menyangka mendapatkan ‘kejutan’ seperti ini.

“Anthony? Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Tentu saja menunggumu.”

Tentu saja, hanya orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh Anthony. Penjelasan. Namun Akupun tidak tahu bagaimana mulai menjelaskan ini semua kepada Anthony.

“Anthony..”

“Renatha. I want some explanation. Kenapa?”

“Kenapa? Kamu sudah tahu jawabannya.”

“Tidak, aku tidak mengetahuinya. Aku butuh penjelasan.”

Menghembuskan nafas dalam-dalam, aku berjalan mendekati Anthony.

“Kita tidak bisa meneruskan ini, Anthony. Tidak sekarang, tidak juga nanti.”

Anthony diam. Berpikir, lebih tepatnya. Berusaha mencerna perkataan yang baru saja dia dengar. Benar. Dirinya mengetahui hal paling mendasar yang selalu menjadi bahan diskusi mendalam hubungan kami.

“Lantas? Kamu pikir ini jalan terbaik, Renatha?”

“Setidaknya tidak ada yang terluka di sini.”

“Tidak ada yang terluka? Benarkah? Lalu apa aku ini? Apa yang sedang aku rasakan?”

“Anthony..” Aku berusaha memelas dan memohon agar Anthony tidak lagi mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Kita sudah mengetahui dari awal. Masing-masing dari kita. Kamu tahu aku dan aku berbeda keyakinan. Lantas apa? Tuhan hanya satu bukan?”

“Bukan itu yang menjadi masalah..”

“Lalu apa? Kamu sudah mengetahui hal ini sejak tiga tahun yang lalu, saat kita pertama kali bertemu. Lantas kenapa masalah ini kembali muncul sekarang?”

“Aku pikir kita akan menemukan jalan keluar nanti saat kita mulai bersama.”

“Benar. Akhirnya jalan keluar yang kau pilih adalah berpisah denganku. Cukup bijaksana mengingat kau membutuhkan waktu tiga tahun untuk memutuskannya.” Anthony meledek dengan mengatakannya dengan nada menghina, namun tenang.

Masih di halaman rumahku, kami berdiri saling canggung dan menunggu. Menunggu salah satu dari kami untuk berbicara. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan bagi kami. Akupun begitu, sudah terlanjur membuat keputusan ini, percuma jika aku membatalkannya, toh semuanya tidak akan kembali lagi seperti semula. Anthony telah terluka.

“Anthony..” Aku berjalan menghampirinya, berusaha membimbingnya duduk di tepi trotoar di depan rumahku. Untung tidak begitu ramai jalanan depan rumahku malam ini. Kami melanjutkan pembicaraan kami yang sempat terpotong.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan, Anthony?”

Kali ini giliran Anthony yang menarik nafasnya dalam-dalam. Rupannya pilihanku untuk duduk merupakan keputusan yang baik. Anthony bisa mengendalikan emosinya. Duduk dengan kedua tangan menopang wajahnya, matanya kosong. Tidak tahu apa yang ada di kepalanya, sepertinya dia mulai mencari celah.

“Entahlah..”

Aku kaget, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Anthony. Terdengar lirih, dan terkesan pasrah. Antara lelah dan putus asa. Entahlah.

“Anthony..”

“Aku mencintaimu, Renatha. Mungkin kau tidak akan mengerti, tapi aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Suaranya lirih, lemah. Anthony bahkan tidak memandangku saat mengatakannya.

“Aku tahu..” Aku juga lelah.

Kami berdua duduk di trotoar. Menatap jalanan yang sepi, tidak banyak yang berlalu-lalang melewatinya. Malam yang sepi. Begitu pula pikiranku dan hatiku.

“Aku mencintaimu, Anthony.”

Anthony kaget dan langsung memandangku. Aku mengetahuinya dari ekor mataku, tentu saja. Aku mengucapkannya tanpa melihat ke arah Anthony. Sepertinya Anthony masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakana kepadanya. Benar, aku tidak berbohong. Aku benar-benar mencintainya.

“Benar, Aku mencintaimu.” Kali ini aku mengatakannya sambil menatap wajahnya secara langsung.

Anthony diam. Masih saling memandang, kami berkomunikasi. Berusaha menjelaskan berbagai ganjalan yang muncul dalam hati, Anthony tidak mengatakan apapun. Berusaha membuka suarapun tidak. Dia masih memandangku. Mungkin yang dia inginkan adalah penjelasan. Benar, mungkin dia menginginkan aku berbicara lebih banyak.

“Aku memang benar mencintaimu, lantas apa?”

Aku bertanya kepada Anthony. Seketika itu juga Anthony siap untuk melontarkan jawabannya. Namun tidak, mulutnya yang sempat sedikit terbuka kembali tertutup. Dia kembali memandangku dengan tatapan serius. Inilah yang membuatku terus berdebar dan merasa nyaman bersama dengan Anthony. Dia sangat pengertian. Meskipun aku tahu banyak sekali kata-kata yang ingin dia lontarkan, nyatanya dia tidak mengucapkan apapun.

“Aku tidak bisa, Anthony. Benarkah kehilangan Tuhanku adalah harga yang harus aku bayar untuk mencintaimu? Terlalu berat, Anthony. Sangat berat.”

Anthony menyimak dan mendengarkan kata demi kata yang aku ucapkan. Tidak tahu ekspresi apa yang sebenarnya dia tampakkan di wajahnya. Aku tidak dapat membaca ekspresinya.

“Lantas? Kamu mau semua ini selesai begitu saja?” Ekspresi wajahnya terbaca sangat jelas. Bahwa dia terluka, namun berusaha menyembunyikan luka itu dariku. Hatiku menciut.

“Lalu? Apa kau punya jalan keluar lain?”

“Tentu saja. Akan jauh lebih baik jika kita tetap seperti ini, seperti sekarang..”

“Dan tidak ada kepastian di ujung hubungan kita kelak? Begitu yang kamu mau?”

Anthony kembali terdiam. Sepertinya kali ini dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dkatakan untuk menjawab pertanyaanku.

Kami kembali terdiam. Menyaksikan malam yang ternyata semakin larut memiliki cahaya yang semakin kuat. Cahaya malam itu mungkin menjadi pelindung kami berdua agar tidak terjadi perang kata yang tidak berujung. Mungkin cahaya itu juga yang berusaha menenangkan hati Anthony agar tidak mengeluarkan amarahnya untuk melawanku kali ini.

“Apa kamu yakin dengan berpisah masing-masing dari kita akan bahagia?”

Kali ini aku yang kembali terdiam. Apa yang harus aku katakan? Aku bahkan tidak dapat menjamin aku bisa bahagia tanpa ada Anthony dalam kehidupanku.

“Bahagia? Setidaknya masing-masing dari kita tidak terluka.” Aku menjawabnya sambil tersenyum.

“Apa dengan begini kamu mengatakan bahwa selama kita bersama kamu tidak merasa bahagia?” Anthony bertanya dengan suara lirih.
“Tentu saja bukan itu maksudku.” Aku kelabakan menjawabnya.

“Lalu? Apakah menurutmu sekarang aku tidak terluka?” Kali ini ekspresinya menunjukkan bahwa dia benar-benar terluka.

“Aku minta maaf..” Aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Aku juga terluka.

“Baiklah, sepertinya memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Anthony berdiri dari duduknya.

Aku tidak mengerti, mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran? Mengapa dia menanggapi ini semua dengan begitu tenang?

“Aku mencintaimu, Renatha.” Anthony berkata.

Kami berdiri, saling berhadapan berdua.

“Aku juga mencintaimu, Anthony.”

“Aku tahu…”

Aku masuk ke dalam pelukan Anthony. Erat, aku rasa ini terakhir kali aku memeluknya. Tidak. Mungkin ini adalah terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Aku tahu, kita tidak akan bisa kembali. Tidak kembali ke kehidupan kita bersama, tidak juga kembali ke kehidupan sebelum kita saling mengenal. Aku mencintai kamu, sangat. Tapi dengan kamu yang seperti ini, memang kita tidak dapat kembali bersama. Aku tahu itu. Setidaknya sampai sekarang, Aku mencintaimu, Renatha.”

***

Ah, aku benci ini. Kembali pikiranku melayang tanpa aku sadari. Kembali ke masa lalu. Aku tersenyum sembari menatap kopi yang ada di tanganku. Benar. Mungkin saat itu aku merasa dibutakan.

Ah, cuaca di luar sana cukup cerah, dengan sedikit awan yang menari di atas sana. Dinding yang langsung menghadap luar hanya terbuat dari kaca, membuatku dapat menatap ke luar, tanpa terhalang apapun, tanpa batas.

Ketika semua orang merasa terbutakan oleh cinta, mungkin aku juga dibutakan. Namun tidak seperti yang dialami semua orang. Semua orang rela mengorbankan apa saja demi cinta mereka, well, love is blind, right? Tapi sepertinya yang terjadi padaku, aku mengorbankan cintaku karena terbutakan oleh hal yang mungkin menurutku lebih besar daripada cinta. Benarkah? Seberharga itukah hal itu hingga aku mengorbankan cintaku?

Cinta? Apa sebenarnya cinta itu? Apa benar cinta begitu berharga? Apa benar cinta bisa mengorbankan semuanya?

Apakah aku sedih? Entahlah.

Apa aku sudah tidak mencintai Anthony? Tentu saja aku masih mencintainya.

Apa aku bahagia sekarang? definisi bahagia menurutku adalah dengan adanya Anthony di sisiku, tentu saja aku bahagia.

Apa yang aku harapkan dengan meninggalkan Anthony? Bukankah aku menginginkan bahagia?

Aku tersenyum, menyadari masih ada sedikit luka yang ternyata belum sembuh dari hatiku. Ah, kopiku sudah habis. Mungkin aku harus kembali pulang. Aku mengemasi semua barangku yang tercecer di meja. Aku akan pulang. Menanti siang yang semakin dalam, dan menanti senja yang sebentar lagi akan menjelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *