Picture Credit: http://www.lovethispic.com/uploaded_images/13599-Memories.jpg
Picture Credit: http://www.lovethispic.com/uploaded_images/13599-Memories.jpg

Setiap buku memiliki akhir ceritanya sendiri. Seperti hujan yang tidak akan pernah bosan untuk menghentikan rintiknya di atas bumi, demi insan yang menangisi kedatangannya. Seperti pelangi yang selalu menghilang tanpa meninggalkan salam bagi para pemujanya. Seperti sajak tentang cinta yang selalu berhenti pada sebuah titik kepedihan.

Sebuah bukti nyata akan adanya kita di masa itu yang menjadikan diri kita menjadi sosok yang sekarang. Cobalah sesekali menelisik lebih jauh apa yang ada di dalam buku cerita perjalanan kisah hidupmu. Mungkin kamu akan menemukan sepercik kenangan yang tidak pernah kamu sadari bahwa dia pernah tercipta. Mungkin senyummu akan sedikit merekah saat kau menemukan percikan kenangan itu.

Namun tidak akan menutup kemungkinan juga kamu akan menemukan setetes tinta hitam yang mungkin tidak sengaja kamu torehkan di sebuah halaman buku cerita perjalanan kisah hidupmu. Mungkin kamu akan tersenyum getir saat melihatnya. Sedikit menyesal, mungkin. Namun sepertinya tidak akan ada hal lain yang dapat kamu lakukan untuk memperbaikinya. Benar, karena dia berada di masa lalu.

Akupun demikian. Kembali membuka buku cerita perjalanan kisah hidupku. Di sini, menatap skyline yang sangat indah dan menakjubkan di depan mata. Tidak sengaja, sebenarnya. Aku hanya kembali memimpikan sebuah bab yang ada di dalam buku ceritaku. Maka hari ini aku memutuskan untuk kembali membuka buku ini.

Baiklah, aku menemukannya. Menemukan sosok yang pernah menghiasi hari indahku. Sosok yang mungkin dengan tidak sengaja membuatku menjadi aku yang seperti ini. Aku yang mendadak berubah menjadi sosok yang sangat mencintai kelembutan. Ya, itu semua berawal dari semua bisiknya yang lembut di telingaku. Membuatku merasa kecanduan dengan kelembutan yang menenangkan itu.

Sosok itu tertulis rapih di sebuah bab di buku ceritaku ini. Tergambar dengan jelas dan nyata sosok yang halus, lembut, dan penuh perhatian itu. Pernah suatu ketika aku bermimpi dan berharap dia akan mengajakku menuju suatu tempat hanya untuk menikmati keindahan alam. Hanya kami berdua. Baiklah aku mengaku, aku hanya pernah mengajaknya berjalan-jalan di dalam mimpiku. Benar, aku terlalu picik untuk sekedar mengajaknya jalan-jalan berdua. Ah, sudahlah, aku masih sangat polos pada saat itu. Anggaplah anak kecil tidak akan dapat langsung berlari tanpa harus merangkak terlebih dahulu, bukan?

Untuk apa aku kembali membuka buku kenangan ini dan sengaja membuka bab tentang dia yang pernah hadir di dalam kehidupanku? Tidak, kawan. Aku tidak menyesali apapun atau menginginkan apapun. Tidak serumit itu. Aku hanya merindukannya. Entahlah sudah berapa lama aku tidak bertemu dengannya. Mungkin takdir yang terlalu kejam karena dengan sengaja menjauhkan jalan hidup kami. Atau mungkin akulah yang terlalu berlebihan menyalahkan takdir, karena aku tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar mengajaknya minum kopi bersamanya.

Jika sang takdir mungkin nanti berbaik hati merencanakan pertemuanku dengannya, tentu aku dengan senang hati menerima. Tentu hingga saat ini aku masih merindukannya. Namun hal itu tidak merubah kenyataan bahwa dia adalah serpihan kenangan yang aku simpan dan aku tutup dengan sangat rapat di dalam buku kenanganku. Tidak akan lebih. Selamanya akan tetap seperti ini.

One thought on “Reminiscence”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *