Awan hitam yang melayang di atas langit memenuhi angkasa dan menutup indahnya warna biru jika langit sedang tersenyum dengan matahari, adalah bukti bahwa langit sedang merasa dikhianati. Seperti pemeran utama dalam sebuah kisah drama percintaan yang merasa ditinggalkan oleh pemeran utama lainnya. Langit sedang berduka, kawan. Tidakkah kau ingin menghiburnya?

Aku merasakan kepedihannya. Sungguh. Terkadang aku ingin membiarkan langit meminta awan gelap itu untuk menurunkan bulir air hujannya agar dirinya sedikit merasa lega. Namun keadaan langit yang semakin gelap tidak membawa keadaan semakin baik. Astaga, aku merindukan matahari.

Jika aku boleh berkata jujur, bukanlah matahari yang aku rindukan. Aku hanya merindukan cahaya. Lihatlah langit di atas sana begitu gelap. Tidakkah mereka tahu bahwa kegelapan itu juga menyelimuti hatiku? Tidak, tidak. Aku tidak sedang bersedih. Aku hanya merasa sedikit kelam jika keadaan langit tidak kunjung membaik. Oh, ayolah. Haruskah aku memohon kepada dewa langit agar dirinya dengan tangan yang luar biasa besar itu menyingkirkan ribuan alam gelap di atas sana? Kemudian kesedihan langit akan Nampak semakin nyata? Tidak, kawan. Aku tidak sejahat itu.

Langit gelap dengan warna kelabu yang selalu menghiasi angkasa membuatku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Entahlah. Dadaku terasa begitu sesak, seolah ada sesuatu yang siap terlontar keluar begitu saja dari dalamnya. Segala memori kesedihan dan kesakitan yang pernah aku alami keluar dan memenuhi dada dan kepalaku begitu saja. Aku membenci suasana seperti ini. Suasana saat semua kenangan buruk yang pernah memenuhi kehidupanku kembali datang dan membuatku terpuruk di dalam lembah penyesalan. Aku merasa berdosa.

Ayolah, awan. Turnkanlah butiran sebening kristal itu ke bumi. Ups, sayangnya kau salah. Aku tidak merindukan hujan. Aku masih membencinya. Jangan kau tersenyum seperti itu. Aku berani bersumpah aku tidak merindukan hujan. Aku hanya menginginkan hujan turun dan berharap segera berhenti agar cahaya kembali menerangi hari-hariku. Tenang saja. Aku hanya membenci keadaan langit yang seperti ini.

Hai, awan. Apakah kau sebenci itu kepadaku? Tolong aku keluar dari cuaca ini. Aku membencinya. Aku seperti putri duyung yang jatuh cinta kepada manusia tampan dengan kaki. Sangat sakit mengetahui kenyataan bahwa cintanya tidak mungkin dapat sampai ke telinga sang manusia. Oke, aku terlalu berlebihan.

Aku menyerah. Tenang saja aku akan mengaku sekarang. Aku hanya ingin agar hujan segera turun karena aku tidak tega kepada langit. Kesedihannya yang begitu mendalam membuatku juga turut merasakan kesedihannya. Langit, tolonglah. Aku pernah merasa lebih sakit dari apa yang sedang kau rasakan sekarang. Tapi haruskah kau tetap bersedih saat kau tahu kesedihanmu juga membuatku kini merasakan kesedihanmu? Benarkah kau setega itu kepadaku?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *