Aku hanya ingin bersama dengannya di sebuah rumah di bibir pantai itu. Mimpi yang sederhana, bukan? Ya, aku mengetahuinya. Tapi mimpi sederhana seperti itu sepertinya tidak dapat dengan mudah terwujud. Miris, memang. Mungkin aku dan dirinya kini berdiri dan memijakkan kaki kita di atas bumi yang sama. Namun semuanya telah berubah. Perasaan itu tak lagi sama. Benar, cinta. Aku masih merindukanmu dalam mimpiku.

Kadang aku berpikir apakah aku terlalu egois untuk menginginkan orang sepertinya untuk bersama denganku menghabiskan sisa hidupku. Namun aku tahu dengan pasti jawaban yang keluar dari mulutnya saat aku mengucapkan mimpi sederhanaku itu.

***

“Tidak semua mimpi dapat kau wujudkan, cinta. Dan tidak semua cinta dapat kau rengkuh dalam dekapanmu.” Kau berkata dengan santai, sambil masih menatap laptop dengan jari yang sibuk.

“Hei, kau mematahkan semangatku, cinta.” Aku menjawabnya dengan ketus sambil memalingkan muka dan mengerucutkan bibirku. Meski begitu aku masih dapat melihatnya yang sedang duduk di depanku menghentikan kegiatannya dan memandangku.

“Kau tau, cinta? Kita boleh saja berencana. Namun bagaimanapun juga, Tuhanlah yang mengatur semuanya. Tuhan adalah pelukis dan penulis yang paling indah. Serahkan semua padanya dan kau akan mendapatkan yang terbaik.” Katanya sambil tersenyum dan memegang tangan kananku. Matanya menatap mataku dengan lekat dan dalam.

“Ya, kau benar.” Aku menjawabnya dengan sedikit terkejut, namun tetap berusaha terlihat tenang.

“Aku mencintaimu, Alisa. Dan hal itulah yang membuatku memanggilmu dengan sebutan cinta. Karena menurutku, devinisi cinta yang paling sempurna adalah dirimu.” Dia mengatakannya dengan lembut dan tulus, dengan sinar mata yang aku bahkan tak menyadari entah sejak kapan menjadi sangan indah.

“Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu. Karena cinta adalah hadiah dari Tuhan yang sangat indah, dan aku merasa hadiah terindah dari Tuhan adalah mempertemukan aku dengan seseorang sesempurna dirimu, Are.” Aku mengatakannya masih dengan menatap matanya dan tersenyum. Berusaha mencari kebohongan di dalam sinar matanya, namun nihil. Hanya kejujuran dan ketulusan yang terpancar di sana. Aku sangat mencintainya. Tidak ada seorang pengunjung café pun yang merasa keberatan dengan kami yang saling memandang terlalu lama. Kami hanya terlalu bahagia.

***

Aku masih berjalan di pinggiran bibir pantai ini merasakan sejuknya air laut yang menerpa wajahku. Aku sengaja berjalan tanpa mengenakan alas kaki dan hanya mengenakan baju terusan panjang dan kardingan tanpa menggunakan alas kaki. Aku ingin mendinginkan emosi dan isi kepalaku yang mendadak berubah rumit.

Semuanya sudah berbeda. Tidak ada lagi pagi dengan ucapan selamat pagi yang romantis dari telepon genggamku. Tidak ada lagi kiriman puisi rindu melalui pesan singkat yang kadang membuatku tertawa atau hanya tersenyum tipis. Tidak ada juga rayuan yang penuh dengan kata-kata manis yang kadang berakhir dengan candaan usil itu lagi. Apa aku merindukannya? Hei, jangan bodoh. Tentu saja aku merindukannya. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjadikan semua itu sebuah kebiasaan.

***

“Kau curang, Are.” Aku berkata dengan air mata yang telah menetes berbulir-bulir di pipiku. Aku bahkan tidak berniat membersihkan air mata ini.

“Maafkan aku, Alisa. Aku berani bersumpah aku masih mencintaimu. Sungguh. Aku hanya tidak sanggup menolak permintaan ayahku yang menjodohkanku dengan putri sahabatnya. Aku hanya.. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti, setidaknya sekali saja dalam hidupku.” Are menjelaskannya dengan suara yang lemah dan putus asa. Entahlah apakah dia juga merasakan luka sedalam yang aku rasakan saat dia dengan tiba-tiba mengajakku mengakhiri hubungan kami.

“Baiklah..” Aku menjawabnya dengan lelah. Lelah yang membuatku enggan untuk berpikir atau berdebat dengannya. “Aku harap kamu bahagia dengan keputusan ini.” Aku melanjutkan.

“Aku harap kau mengerti, Alisa.” Dia menjawab juga, sama lelahnya denganku.

“Aku mengerti. Dan aku harap kau juga mengerti kalau aku masih membutuhkan waktu untuk memproses ini semua. Jangan menemuiku dulu, setidaknya sampai aku memutuskan untuk menemuimu.” Aku berkata, kemudian meninggalkannya sendiri di sebuah coffee shop yang biasa kita kunjungi. Aku masih mencintaimu, Are.

***

Aku kini berdiri tidak jauh dari rumah yang dulu pernah aku impikan akan menjadi rumahku dengan Are. Ah, memang benar apa yang dia katakan. Tidak ada yang bisa mengalahkan lukisan atau tulisan takdir dari tangan Tuhan. Dan kini aku percaya.

Aku mohon, Tuhan. Aku mohon berikan aku kesabaran atas ini semua. Hari ini Are menikah dengan perempuan itu. Aku memohon belas kasihmu, Tuhan. Setidaknya biarkan aku bernafas dengan tenang dan lapang dada menerima apa yang memang telah Kau kehendaki. Aku hanya ingin kembali bahagia dengan segera membersihkan luka ini. Aku mencintaimu, Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *