Semuanya tidak seperti apa yang aku bayangkan. Benar, aku kira semua cerita yang aku coba untuk tulis di buku cerita hiduku ini akan berakhir di sisi Arista, perempuan yang telah empat tahun menikah denganku. Namun tidak, semua tidak menjadi indah seperti apa yang pernah aku impikan. Aku belajar mencintainya. Sungguh, aku berusaha sekuat tenaga untuk memberikan seluruh perhatian dan kasih sayangku kepadanya. Namun kembali lagi, semuanya tidak seperti yang aku impikan saat pertama kali aku setuju untuk menikahinya.

Semuanya berantakan sekarang. Tidak, lebih tepatnya hal ini tidak pernah benar-benar membaik sejak pertama kali aku memutuskan menikahinya. Hanya saja aku baru menyadarinya beberapa hari yang lalu, saat dia mengatakan itu.

***

“Arista, tunggu, kau mau kita apa?” Aku bertanya sekali lagi, berusaha meyakinkan pendengaranku.

“Aku mau kita bercerai, Are. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku lelah harus berpura-pura bahagia. Aku ingin menjemput kebahagiaanku sendiri.” Arista menjelaskan sambil duduk di meja makan kami dengan aku duduk di depannya.

“Aku tahu kau tidak mencintaiku. Tapi tidakkah kau berusaha untuk belajar mencintaiku seperti yang aku lakukan padamu?” Aku bertanya dengan mata sedikit memohon, berharap Arista akan merubah pendiriannya. Oh, ayolah. Aku tidak ingin orang tuaku kaget mendengar perceraianku kelak.

Look, Are. The thing is, aku jatuh cinta pada lelaki lain.” Arista mengatakannya dengan santai seolah ini bukan masalah yang serius.

“Arista…”

“Jangan menyelaku dulu, Are. Aku juga tahu kau mencintai orang lain. Jadi silahkan kau kejar cintamu, dan aku akan mengejar cintaku. Bukankah dengan begitu kita berdua akan bahagia?” Arista menjelaskan dengan santai. Oh, aku lupa. Aku sedang berbicara dengan seorang wanita karir yang sangat metropolitan.

Aku terdiam. Ya, aku mungkin masih mencintai Alisa. Namun aku bahkan tidak mendengar kabarnya selama aku menikah dengan Arista, meskipun aku tahu dari beberapa teman kami dimana dia tinggal sekarang. Namun aku tidak sebodoh itu memunculkan diriku begitu saja di depannya. Mungkin beberapa kali aku melihat nama dan wajahnya di media online ataupun offline. Alisa kini menjadi salah satu penulis muda berbakat yang cukup terkenal. Aku sedikit bangga terhadapnya.

“Are? Kau mendengarkanku kan?” Arista melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Eh? Ya, aku mendengarkanmu.” Aku gelagapan.

“Kalau begitu kau setuju kita bercerai?” Arista bertanya masih dengan nada yang sangat santai.

“Baiklah, lakukan saja.” Aku menjawabnya dengan pasrah.

***

Dan di sinilah aku, sedang duduk sendiri di sebuah kafe buku yang tidak jauh dari kantorku. Setelah aku bercerai dengan Arista, aku harus membiasakan diri untuk melakukan semuanya sendiri. Baiklah, aku rasa aku berlebihan karena aku memang sangat jarang melakukan hal-hal menyenangkan berdua dengan Arista. Kami terlalu sibuk dengan dunia kami masing-masing.

‘Tring’ pintu kafe terbuka, dan aku melihat seorang perempuan masuk. Oh tidak. Jangan katakan firasatku benar.

“Alisa! Di sini.” Dan aku mendengar seseorang yang duduk cukup jauh dariku meneriakkan sebuah nama sambil melambaikan tangannya. Dia benar Alisa.

Aku memperhatikannya berjalan melewatiku. Ah, sepertinya memang dia tidak melihatku. Dia berubah. Rambutnya yang dulu pendek sebahu kini panjang tergerai di punggungnya. Dan helaian yang dulu berwarna hitam itu kini berwarna cokelat tua. Dan astaga, kenapa wajahnya terlihat begitu tirus? Dia lebih kurus dari aku terakhir melihatnya, meski aku akui sekarang dia terlihat lebih cantik.

Sepertinya dia banyak berubah. Lihatlah, dia bahkan tidak sedikitpun tertawa menghadapi seseorang yang berbicara dengan heboh di depannya. Dia hanya tersenyum manis sambil mendengarkan perempuan lain itu yang menjelaskan banyak hal sambil menunjukkan beberapa gambar di sebuah majalah. Entahlah. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas apa yang mereka lakukan. Tapi satu hal yang aku yakin, Alisa yang ceria dan penuh dengan semangat telah berubah menjadi Alisa yang lembut dan hangat. Alisa, aku sepertinya merindukanmu.

Ah, mereka sepertinya sudah selesai berbicara. Mereka berdiri, berjabat tangan dan siap meninggalkan kafe ini. Namun langkah kaki Alisa berhenti saat melihatku. Meski sempat menatapku lama, namun dia tidak menyapaku. Sepertinya dia sedang meyakinkan pengelihatannya bahwa dia benar-benar melihatku.

“Hai, Alisa.” Aku berusaha memecah keheningan dan berdiri dari kursiku sambil menyulurkan tanganku siap menerima salam darinya.

“Oh, hei, Are. Sudah lama sekali.” Dia menyalami tanganku dan tersenyum.

“Iya. Kau mau bergabung?” Aku menawarinya duduk denganku. Sejujurnya, aku berharap dapat mengobrol banyak dengannya. Aku tidak akan melupakan fakta bahwa aku sangat merindukannya.

Sure. Aku memang sedang menunggu jemputan.” Dia kemudian duduk di bangku di depanku yang semula kosong.

***

Entah berapa waktu yang telah berlalu sejak Alisa duduk di depanku. Tidak ada percakapan yang terjadi, dia hanya memandang ke jendela di sebelah kanannya dengan menopang dagu. Sepertinya dia benar-benar sedang menunggu. Dan aku memperhatikan Alisa yang kini duduk di depanku. Tidak ada lagi sinar mata jahil itu yang selalu menyenangkan setiap orang yang menatap matanya. Kini hanya kelembutan yang terpancar dari sinar matanya. Apakah usia mempengaruhi sifat dan sikap seseorang? Alisa yang gemar mengenakan jeans dan kaos oblong, kini duduk di depanku dengan menggunakan dress cantik dan sederhana berwarna putih sepanjang lututnya.

“Bagaimana kabarmu, Are?” Alisa berusaha memecah keheningan yang mematikan ini.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri? Ah, aku membaca buku yang kau tulis. Sangat indah. Kau memang selalu berbakat dengan kata-kata.” Aku berusaha mencairkan suasana.

“Benarkah? Terima kasih. Aku tidak menyangka kau membacanya.” Dia tersenyum dengan sangat manis.

“Begitulah, aku membaca bukumu saat namamu menjadi salah satu penulis muda yang patut diperhitungkan.” Aku berkata dengan nada setengah bergurau, berharap dia menimpaliku juga dengan gurauannya.

“Aku tidak seperti itu. Media hanya membesarkan berita saja.” Dia menjawabnya dengan tenang. Sepertinya Alisa memang belum nyaman kembali berbicara denganku. “Bagaimana pernikahanmu? Apa kau sudah mendapatkan Are junior?” Dia kemudian bertanya.

“Tidak, aku sudah bercerai.” Aku menjawabnya santai.

What?” Dia terkejut, terlihat jelas dari wajahnya. Dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan perasannya.

“Ya, begitulah. Aku sendiri sekarang.”

“Oh..” dia hanya menjawabnya dengan sangat singkat.

“Alisa,” Aku memegang tangannya. Dia terkejut, tentu saja. “Aku minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan. Sepertinya aku memang sangat egois saat itu. Aku…”

“Are…” Dia menyelaku. “Sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku berusaha keras untuk melupakannya.” Dia menjawabnya dengan lembut dan tersenyum.

“Tapi aku…”

‘ttrrrdd’ Ponsel milik Alisa bergetar. Dia menarik tangannya dari genggamanku dan mengangkat ponselnya.

“Halo?”

“…”

“Sudah, aku sudah bertemu dengannya.”

“…”

“Tidak apa. Aku tahu kemacetan Jakarta seperti apa. Oh, hei. Kamu sudah datang?” Alisa kemudian berdiri saat menyadari orang yang sedang di ujung teleponnya kini telah ada di depannya. Kemudian dia berdiri dan menunggu pria itu untuk menghampirinya kemudian memberinya pelukan ringan.

“Maaf, aku terlalu lama. Macet sekali.” Pria itu berkata sambil mengusap rambut Alisa. Sial, kenapa hatiku terasa sakit?

“Tidak apa. Aku tidak sengaja bertemu dengan teman lamaku. Kenalkan, namanya Are.” Dia mengenalkan kami berdua. Dan, Hei! Tidak bisakah dia mengatakan aku adalah mantan kekasihnya?

“Hei, terima kasih telah menemani Alisa. Adrian.”

“Are.” Dan kami pun berjabat tangan.

“Oh tunggu sebentar.” Alisa mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Ini undangan pernikahanku dan Adrian. Aku harap kau bisa datang, Are.” Alisa tersenyum mengatakannya.

‘deg’

Apa? Tidak adakah yang salah dengan pendengaranku kan?

“Benar. Kau harus datang, Are.” Adrian menambahkan.

“Akan aku usahakan.” Aku menjawab dengan berusaha tersenyum. Astaga, ini terlalu menyakitkan.

“Baiklah. Kami pergi dulu, Are. Aku harap dapat bertemu lagi denganmu.” Adrian berkata kemudian berlalu dengan menggenggam erat tangan Alisa. Mengapa semuanya sesakit ini?

Aku memandang Adrian dan Alisa dari jauh. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan saling menatap dan sesekali tersenyum dan tertawa dalam obrolan mereka. Saat pintu yang menghambatku kini tiada, kenapa aku harus kembali menerima kenyataan bahwa memang Alisa bukan untukku? Apakah Alisa juga merasa sesakit ini saat aku memutuskan untuk menikah dulu? Aku masih mencintaimu, Alisa. Sangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *