http://www.thepoliticalinsider.com/wp-content/uploads/2014/04/Guns.jpg
http://www.thepoliticalinsider.com/wp-content/uploads/2014/04/Guns.jpg

“Satu americano.” Aku berkata kepada salah satu pelayan di Coffee Shop ini.

“Satu americano atas nama?” Pelayan itu menjawab dan bertanya dengan sangat lembut. Oh, Come on. Kau tidak akan terlihat semakin tampan meski kau tersenyum kepadaku

“Ara.” Aku menjawabnya singkat.

“Ara, A-R-A?” Bertanya sambil mengeja namaku huruf demi huruf. Astaga!

Yeah.” Aku menjawab sambil memutar bola mataku.

“Silahkan tunggu sebentar.”

Dan aku kemudian berjalan ke ujung, tempat beberapa orang juga menunggu pesanan mereka. Aku harap tidak perlu menunggu terlalu lama. Oh, ayolah. Siapa yang akan merasa nyaman ketika semua orang di dalam coffee shop ini memandangku dengan pandangan aneh? Apakah mereka tidak pernah melihat orang sepertiku sebelumnya? Dan aku rasa tidak ada yang aneh dengan diriku. Hanya ekpresi yang berusaha nampak datar yang aku tampilkan, meskipun berujung dengan ekspresi kesal dan terkesan angkuh yang muncul.

Lihat, aku hanya mengenakan celana jeans panjang hitam dengan tank top hitam dan sepatu boots dengan warna hitam dengan heels tidak terlalu tinggi, hanya 7 cm. Tidak ada yang spesial dengan penampilanku, setidaknya menurutku. Apakah mereka tidak pernah melihat seorang perempuan dengan mengenakan pakaian serba hitam? Bukankah banyak perempuan yang berpakaian seperti ini di zaman ini?

“Silahkan. Americano atas nama Ara.”

Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sekenanya kemudian menuju ke salah satu meja. Ugh, mereka masih terus menatapku, bahkan saat aku sudah mulai duduk di salah satu meja.

Aku berusaha menenggelamkan diriku dan berusaha mengacuhkan segala pandangan yang ditujukan ke arahku. Aku membuka laptopku dan berusaha memfokuskan diri. Aku membuka beberapa email yang aku dapat, salah satunya adalah Drey, bos di organisasi tempatku bekerja. Dia memintaku untuk memata-matai salah satu target sasaran yang kemungkinan akan membahayakan organisasi. Ingatkan aku untuk menghubunginya kelak saat aku sudah di apartemen pribadiku.

Oh, aku belum memberitahu. Aku bekerja di salah satu organisasi gelap yang mungkin tidak terlalu atau bahkan sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Bagaimana tidak, organisasi tempatku bekerja ini masih sangat tabu bagi kebanyakan masyarakat. Tidak, kawan. Kau salah jika menurutmu aku bekerja karena aku tidak mendukung perkembangan perekonomian atau kesejahteraan masyarakat di Negara kita tercinta ini. Aku bekerja di sini karena aku menikmatinya. Ya, aku menikmati pekerjaan yang memacu adrenalin dan dapat menggunakan pistol kesayanganku kapan saja. Benar, aku adalah seorang penembak.

Banyak sekali email yang masuk. Aku bahkan lelah hanya membayangkan membalas email ini satu persatu. Oh, aku melihat ada email dari Oot, menyuruhku untuk memberikan informasi mengenai beberapa pistol. Ah, mungkin pria tua itu kini mulai mengakui, dia membutuhkan pistol. Aku hanya tersenyum meremehkan saat membalas email darinya.

“Hai.” Tiba-tiba saja ada yang menyapaku dan dengan tidak sopan duduk di depanku.

“Zaal. Kau mengagetkanku.” Dan aku melihatnya, sosok yang aku tunggu.

Oh, lihatlah. Dia mengenakan celana jeans hitam dengan kemeja lengan panjang yang nampak pas di badannya. Tidak dimasukkan, dan dua kancing paling atas pun tidak dia kancingkan. Dia terlihat ‘normal’. Tidak seperti biasanya yang terlihat kuat dan menakutkan.

“Ara, lihatlah, kenapa kau harus keluar dengan pakaian seperti ini?” Zaal menegurku.

“Aku juga bertanya-tanya. Hampir semua orang di sini melihatku aneh. Bukankah aku berpakaian normal?” Kembali bertanya. Lihatlah, aku bahkan sengaja tidak mengenakan make up sedikitpun agar tidak terlalu mencolok.

“Kau memang hanya mengenakan tank top biasa. Tapi rambutmu yang kau kuncir kuda itu memperlihatkan tato yang menjalar panjang dari punggungmu hingga ke lengan dan leher belakangmu itu dengan sangat jelas. Ditambah pistol yang ada di kantong belakangmu itu.” Dia menjelaskan sembari menunjuk bagian belakang tubuhku dengan dagunya.

“Ayolah, aku hanya membawa revolver sederhana.” Aku memutar bola mataku.

“Ingat, cantik. tidak semua orang familiar dengan perempuan dengan pakaian serba hitam dan tato memenuhi tubuhnya dengan pistol terselip di belakang celanannya.”

Zaal tertawa kecil, akupun tersenyum tipis. Jarang sekali aku dan Zaal terlibat di dalam obrolan yang santai seperti ini. Meskipun kami bekerja di bawah organisasi yang sama, namun keadaan tidak pernah mempertemukan kami dalam sebuah project secara bersamaan. Aku sangat menikmati ini. Sore hari, dengan langit setengah memerah, di sebuah coffee shop yang penuh dengan aroma kopi. Sangat menyenangkan.

2 thoughts on “ARA – A.R.A”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *